Kade Yudi Saspriyana's Blog

Hear Your Heart. Heart Your Health.

BAGAIMANA MENCEGAH KANKER LEHER RAHIM ? March 24, 2010

Filed under: Kesehatan,Semua Kategori — kade yudi @ 2:33 am

oleh : dr. Kade Yudi Saspriyana

Berdasarkan data Yayasan Kanker Indonesia, diketahui bahwa di dunia setiap tahunnya sekitar 500.000 perempuan didiagnosa menderita kanker leher rahim (serviks) dan lebih dari 250.000 meninggal dunia. Total 2,2 juta perempuan di dunia, setiap tahunnya, menderita kanker leher rahim.

Kanker leher rahim cenderung muncul pada perempuan berusia 35-55 tahun, namun dapat pula muncul pada perempuan dengan usia yang lebih muda. Di Indonesia, diperkirakan setiap harinya terjadi 41 kasus baru kanker leher rahim dan 20 perempuan meninggal dunia karena penyakit tersebut. Data-data tersebut membawa kanker leher rahim merupakan kanker nomor 2 yang paling sering menyerang perempuan di seluruh dunia dan kanker leher rahim merupakan kanker nomor 2 yang paling sering menyebabkan kematian karena kanker pada perempuan di seluruh dunia.

Tingginya angka kejadian dan angka kematian (mortalitas) kanker leher rahim di Indonesia terutama disebabkan  karena pasien baru datang memeriksakan diri ke dokter pada stadium lanjut. Sekitar lebih dari 70% pasien terdiagnosis pada stadium lanjut (lebih dari stadium II B). Salah satu faktor yang menyebabkan keadaan tersebut adalah  90% dari kasus kanker leher rahim pada stadium dini tidak memiliki gejala khas sehingga penderita tidak mengetahui adanya kanker di tubuhnya.

Belum lagi cara pandang hampir sebagian besar masyarakat Indonesia yang hanya memeriksakan dirinya ke dokter hanya ketika sudah mengalami gejala berat, seperti mengalami perdarahan spontan per vaginam. Dan jika hal itu terjadi, kanker leher rahim sudah berada pada stadium lanjut dan memiliki angka harapan hidup yang kecil.

Mengacu pada kenyataan-kenyataan tersebut, penanggulangan kanker leher rahim juga terletak pada bagaimana mengadakan suatu upaya deteksi dini (skrining) yang dapat menjangkau seluruh wanita Indonesia. Dengan mengadakan deteksi dini atau skrining merupakan salah satu cara untuk menemukan lesi pre kanker dan kanker pada stadium dini.

Berdasarkan estimasi tahun 1985 (PATH 2000) hanya 5% perempuan di negara sedang berkembang yang mendapatkan pelayanan deteksi dini dibandingkan dengan 40% perempuan di negara maju. Oleh karenanya tidak dapat dipungkiri bahwa angka kejadian kanker leher rahim di Indonesia belum dapat ditekan, dibandingkan dengan negara maju yang telah menerapkan deteksi dini ini secara berkelanjutan sejak lima dekade yang lalu.

Kanker leher rahim timbul di batas antara epitel yang melapisi ektoserviks (porsio) dan endoserviks kanalis serviks yang disebut sebagai squamo-columnar junction. Kanker leher rahim muncul dari zone transformasi di leher rahim. Zone ini lebih mudah untuk mengalami perubahan ke arah tidak normal dan dapat tumbuh menjadi kanker jika ada infeksi Human Papilloma Virus (HPV) dan jika terdapat faktor risiko lain. Kanker leher rahim dapat berkembang sampai 5-10 tahun setelah infeksi HPV. Faktor risiko yang dimaksud antara lain: umur, memiliki pasangan seksual lebih dari satu, multi paritas (melahirkan lebih dari empat anak), melakukan hubungan seksual pada usia dini (16 tahun atau kurang), penggunaan obat imunosupresan, infeksi genital (alat kelamin), ketidakseimbangan radikal bebas dan antioksidan, merokok, dan sosial ekonomi lemah.

Infeksi HIV juga dapat meningkatkan risiko terkena infeksi HPV. Hal ini diduga berhubungan dengan lesi prakanker dan kanker serviks atas dasar sistem imunitas yang berperan penting pada proses keganasan yang multi faktorial. Sistem imunitas yang tertekan merupakan predisposisi infeksi virus onkogenik, apalagi dengan keadaan mekanisme regulasi sel yang sudah terganggu akan mempercepat perkembangan keganasan.

Gejala klinis kanker leher rahim antara lain perdarahan pasca senggama, keputihan yang abnormal, perdarahan antara dua siklus menstruasi, perdarahan pasca menopause, perdarahan spontan per vaginam, perdarahan per vaginam saat buang air besar, nyeri ketika bersenggama, gangguan saat BAB/BAK, dan nyeri pada daerah pelvis, pinggang atau punggung, dan tungkai.

Metode Skrining (Deteksi Dini)

Terdapat beberapa metode skrining kanker leher rahim. Di antaranya adalah Pap smear, kolposkopi, servikografi, Pap net (dengan komputerisasi), tes molekular DNA-HPV, inspeksi visual dengan asam asetat (IVA), serta inspeksi visual dengan asam asetat dan pembesaran gineskopi (IVAB). Yang tersering dikerjakan adalah metode Pap smear dan metode yang paling sederhana adalah inspeksi visual dengan asam asetat (IVA).

1. Pap smear

Konsep ini diperkenalkan oleh Dr. George Papanicolaou pada tahun 1928 dan mulai populer sejak tahun 1943. Oleh sebab itu, metode ini dikenal dengan nama Pap Smear (Tes Pap) yang berasal dari kata “Papanicolau”.

Untuk mendapatkan kecukupan bahan pemeriksaan dan untuk meningkatkan akurasi Pap smear perlu diperhatikan kriteria-kriteria sebagai berikut: penderita sebaiknya datang diluar menstruasi; tidak diperkenankan memakai bahan-bahan antiseptik pada vagina; penderita paska bersalin, paska operasi rahim, paska radiasi sebaiknya datang 6-8 minggu kemudian; penderita yang mendapatkan pengobatan lokal seperti vagina supostoria atau ovula sebaiknya dihentikan 1 minggu sebelum Pap smear; dan jangan berhubungan seksual 48 jam sebelum pemeriksaan dilakukan.

Adapun jadwal Pap smear yang dianjurkan adalah: Pap smear pertama sebaiknya dilakukan dalam tiga tahun pertama setelah hubungan seks pertama kali atau saat berumur 21 tahun, tergantung yang mana yang duluan tercapai. Dari umur 21 sampai 29 tahun, Pap smear sebaiknya dilakukan setiap satu atau dua tahun. Dari umur 30 sampai 69 tahun, Pap smear bisa dilakukan dua atau tiga tahun jika sebelumnya tes Pap smear normal tiga tahun berturut-turut. Umur 70 tahun ke atas, pemeriksaan Pap smear boleh dihentikan jika tiga kali pemeriksaan atau lebih secara berturutan memberikan hasil normal dan tidak ada hasil Pap smear dalam sepuluh tahun terakhir yang abnormal. Jika seorang wanita termasuk kategori beresiko tinggi terkena kanker serviks, maka pemeriksaan Pap smear bisa dilakukan lebih sering.

2. Inspeksi visual dengan asam asetat (IVA)

Metode IVA ditemukan oleh Hinselman pada tahun 1925. Metode ini menggunakan cairan asam asetat 3%-5% yang dipulaskan pada serviks dengan menggunakan aplikator kapas sebelum dilakukan pemeriksaan dalam. Pada lesi pra kanker, 20 detik setelah pulasan akan tampak bercak warna putih yang disebut aceto white epithelium (WE).

Adanya bercak putih disimpulkan bahwa tes IVA positif. Dari berbagai penelitian diperoleh sensitifitasnya berkisar antara 64%-87%, nilai prediksi positif sebesar 97%, dan nilai prediksi negatif sebesar 40%. Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa IVA merupakan metode skrining alternatif kanker serviks di negara berkembang seperti Indonesia. Kelebihan metode ini adalah tehnik ini mudah, praktis dan sangat mampu laksana; dapat dilaksanakan oleh tenaga kesehatan bukan dokter ginekologi, dapat dilakukan oleh bidan dan dokter umum disetiap tempat pemeriksaan kesehatan ibu; alat-alat dan bahan yang dibutuhkan sangat sederhana; interpretasi hasil cepat dan mudah; dan biaya yang diperlukan murah.

Pencegahan dan Penatalaksanaan

Terdapat tiga langkah utama yang dapat dikerjakan untuk mencegah kanker leher rahim, yaitu: usaha pencegahan primer, usaha pencegahan sekunder, dan usaha pencegahan tersier. Usaha pencegahan (preventif) primer mencakup edukasi untuk mengurangi perilaku seksual berisiko tinggi seperti berhubungan seksual dengan banyak pasangan, menghindari atau meminimalkan adanya faktor risiko lain seperti menikah di usia dini, melahirkan anak di usia muda, dan merokok, serta menggunakan kondom jika melakukan hubungan seksual multipartner.

Vaksin HPV juga termasuk usaha pencegahan primer. Hal ini didasari oleh penjelasan bahwa salah satu faktor risiko dari kanker leher rahim adalah infeksi HPV. Vaksinasi yang diberikan dapat melindungi wanita dari HPV tipe 6,11,16, 18. Hal ini berimplikasi pada jenis vaksin yang beredar, yakni: quadrivalen dan bivalen. Agar pemberian vaksin dapat efektif, pemeberian vaksin sebaiknya sebelum seorang wanita mulai melakukan hubungan seksual. Menurut The Federal Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) pemberian vaksin dapat dimulai pada usia 11-12 tahun dan dapat pula pada usia lebih muda (9 tahun) yang tentunya atas pertimbangan dokter. Dan disebutkan pula bahwa wanita usia 13-26 tahun yang belum mendapatkan vaksinasi sebaiknya segera mendapatkan vaksinasi HPV ini.

Vaksinasi HPV merupakan salah satu cara untuk mencegah Kanker Leher Rahim

Pemberian vaksin HPV ini dilakukan 3 kali dalam rentang waktu 6 bulan. Pemberian yang kedua dilakukan setelah 2 bulan pemberian vaksin yang pertama, dan yang ketiga setelah 4 bulan pemberian vaksin yang kedua. Berdasarkan penelitian klinis yang telah dilaksanakan, Vaksin HPV quadrivalen dapat mencegah kondiloma yang disebabkan oleh HPV tipe 6,11 dan juga mencegah lesi prekanker yang disebabkan oleh HPV tipe 16,18. Vaksin HPV ini hanya bekerja untuk mencegah infeksi HPV, namun tidak mengobati infeksi yang telah terjadi.

Pencegahan sekunder mencakup deteksi dini dan tatalaksana lesi prekanker yang sangat sederhana, mudah, dan efektif. Deteksi dini yang telah dikenal banyak oleh kalangan di Indonesia adalah Pap smear dan inspeksi visual dengan asam asetat (IVA). Tes Pap smear tetap menjadi standard utama. Tes Pap smear digunakan secara luas sebagai tes skrining untuk kanker leher rahim tetapi memiliki beberapa keterbatasan. Keterbatasannya antara lain karena teknik pengambilan bahan, sumber daya manusia sebagai pelaku skrining, masalah geografi, dan masalah wanita yang selayaknya menjalani skrining.

Terdapat metode skrining yang lain yaitu: IVA. Walau tes skrining ini bukanlah hal baru, teknik ini sangat tepat untuk diterapkan secara massal di Indonesia. IVA dapat membedakan antara leher rahim yang normal dan tidak normal dengan cara yang murah, mudah tersedia, dan cepat. IVA tidak memerlukan pemeriksaan laboratorium, hasilnya cepat didapatkan, dan tatalaksana dapat dilakukan setelah pemeriksaan.

Metode preventif yang terakhir adalah pencegahan tersier seperti tatalaksana untuk kanker seperti terapi bedah dan radiasi. Pemilihannya tergantung pada stadium kanker.

Berdasarkan penjelasan di atas, jelaslah bahwa kanker leher rahim dapat dicegah dengan melaksanakan serangkaian tindakan pencegahan sebelum ditemukannya penyakit dalam stadium yang lebih lanjut. Titik berat pencegahan di sini adalah dengan melakukan upaya deteksi dini (skrining) secara berkelanjutan. Hal ini merupakan kesempatan untuk menemukan kanker pada stadium dini dan untuk melindungi wanita dari penyakit yang mematikan ini. Oleh karenanya, pencegahan tetap menjadi langkah yang lebih tepat dibandingkan pengobatan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s