Kade Yudi Saspriyana's Blog

Hear Your Heart. Heart Your Health.

OBAT DAN KEHAMILAN March 24, 2010

Filed under: Kehamilan,Kesehatan,Semua Kategori — kade yudi @ 2:57 am

oleh : dr. Kade Yudi Saspriyana

Dewasa ini banyak sekali produk-produk kesehatan yang ditawarkan kepada masyarakat. Dan tidak sedikit pula yang menyasar ibu-ibu hamil. Sekiranya muncul pertanyaan dalam benak ibu-ibu hamil tersebut, apakah produk ini aman untuk mereka dan apa bahayanya mengkonsumsi obat tanpa seijin dokter. Berikut ini akan dibahas mengenai obat-obat yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi kehamilan, baik itu terhadap ibu maupun janinnya, jika digunakan tanpa petunjuk dokter.

Pada wanita hamil, adalah penting untuk menjaga kesehatannya dengan jalan mengkonsumsi makanan yang bergizi, istirahat yang cukup serta melakukan olahraga secara teratur. Dan yang tidak kalah penting adalah menghindari berbagai zat yang dapat membahayakan dirinya maupun janinnya. Zat-zat yang dimaksud seperti: obat-obatan, alkohol, dan rokok.

Sekitar lebih dari 90% wanita hamil menggunakan obat-obatan, baik yang diresepkan oleh dokter ataupun tanpa resep. Secara umum, kecuali benar-benar dibutuhkan dan dengan ijin dokter, penggunaan obat-obatan bebas sebaiknya dihindari karena akan berdampak buruk pada janin yang dikandung. Diketahui pula bahwa di Amerika Serikat sekitar 2-3% dari seluruh kelainan yang muncul pada bayi baru lahir disebabkan karena penggunaan obat yang tidak sesuai.

Pada beberapa kasus, pemberian obat dapat memberikan dampak yang baik pada ibu dan janinnya. Walaupun demikian, seorang ibu seharusnya berkonsultasi dahulu dengan dokter mengenai resiko dan keuntungan menggunakan obat-obat tersebut.

Obat-obatan yang diminum oleh wanita hamil dapat sampai ke janin dengan melewati plasenta/ari-ari, yang juga merupakan jalur yang digunakan untuk menyalurkan oksigen dan nutrisi guna pertumbuhan dan perkembangan janin. Obat-obatan yang dikonsumsi wanita hamil tanpa petunjuk dokter dapat berdampak buruk pada janinnya oleh karena disebabkan oleh hal-hal berikut ini:

  • Secara langsung berdampak pada janin, menyebabkan kerusakan, perkembangan dan pertumbuhan janin yang abnormal, sampai dengan menyebabkan kematian.
  • Mengubah fungsi plasenta (ari-ari) dengan jalan mengecilkan atau mempersempit pembuluh darah sehingga menurunkan suplai oksigen dan nutrisi dari ibu ke janin. Hal ini selanjutnya akan menyebabkan bayi menjadi kurang berat badannya dan perkembangannya juga terganggu.
  • Menyebabkan otot rahim berkontraksi secara dini, sehingga menurunkan suplai darah ke janin atau memicu kelahiran prematur.

Bagaimana suatu obat dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin tergantung pada tahap perkembangan janin itu sendiri dan juga pada kekuatan dan dosis obat yang dikonsumsi. Obat tertentu yang dikonsumsi pada awal masa kehamilan (dalam 20 hari setelah pembuahan) dapat berdampak negatif atau malah tidak berdampak sama sekali pada janin. Pada masa tiga sampai delapan minggu setelah pembuahan, janin sangat rentan mengalami defek pada pertumbuhannya karena pada masa tersebut organ-organ sedang dibentuk (organogenesis). Pada periode ini, obat-obatan yang dikonsumsi tidak dengan petunjuk dokter bisa jadi tidak berdampak apa pun pada janin, atau malah menyebabkan keguguran, defek pertumbuhan yang nyata, atau pun defek yang permanen yang baru terlihat setelah bayi lahir. Sedangkan apabila obat-obatan tersebut dikonsumsi setelah proses organogenesis selesai akan dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan janin.

Food and Drug Administration (FDA), yang berpusat di Amerika Serikat mengklasifikasikan obat menurut derajat resiko yang dapat ditimbulkan pada janin jika obat-obat tersebut digunakan secara bebas. Beberapa obat tergolong sangat toksik (highly toxic) dan sangat dilarang penggunaannya pada wanita hamil. Sebagai contoh adalah thalidomide. Beberapa dekade yang lalu, obat ini diketahui dapat menyebabkan gangguan pembentukan lengan atas dan tungkai bawah, serta defek pada usus halus, jantung dan pembuluh darah.

Seringpula beberapa jenis obat disubstitusi dengan obat jenis lainnya karena lebih aman digunakan selama kehamilan, sebagai contoh: untuk jenis antibiotika, golongan penicillin cenderung aman digunakan pada masa kehamilan. Kemudian apabila harus memberikan obat-obatan antihipertensi (pada wanita hamil yang menderita preeklampsia dan atas petunjuk dokter) juga harus diperhatikan secara ketat, dan dihindari pemberian obat angiotensin converting enzyme (ACE) inhibitor dan diuretik thiazide, karena kedua obat ini dapat menyebabkan masalah yang serius pada janin.

Berikut ini beberapa jenis obat yang dapat menyebabkan masalah jika digunakan pada masa kehamilan:

1. Antibiotika:

  • Kanamycin, streptomycin: merusak pendengaran sehingga dapat menyebabkan ketulian pada bayi.
  • Sulfonamide: menyebabkan kuning dan kerusakan otak pada bayi baru lahir.
  • Tetracycline: menyebabkan pertumbuhan tulang menjadi lambat, warna kuning pada gigi.
  • Chloramphenicol: gray baby sindrom.

2. Obat antianxietas (Diazepam): obat golongan ini dapat menyebabkan depresi, iritabilitas pada bayi baru lahir.

3. Antikoagulan (Warfarin): menyebabkan perdarahan pada janin dan ibunya.

4. Antikonvulsi:

  • Carbamazepine, phenobarbital, phenytoin: menyebabkan perdarahan pada bayi baru lahir. Namun dapat dicegah apabila ibu mengkonsumsi vitamin K setiap hari sebelum persalinan berlangsung atau dengan memberikan injeksi vitamin K pada bayi baru lahir.
  • Valproate: dapat menyebabkan bibir sumbing dan defek pada jantung, tengkorak, tulang belakang.
  • Trimethadione: menyebabkan keguguran, bibir sumbing dan defek pada jantung, tengkorak, maupun pada organ abdomen.

5. Antihipertensi:

  • ACE inhibitors: dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal janin, menurunkan jumlah cairan amnion (air ketuban), dan defek pada wajah dan paru.
  • Beta blockers: dapat menyebabkan pertumbuhan janin terhambat dan juga menurunkan kadar gula janin.
  • Diuretik thiazide: menurunkan kadar oksigen, natrium, dan kalsium janin.

6. Antimania (lithium): dapat menyebabkan defek pada jantung, menurunkan tonus otot, menurunkan aktivitas kelenjar tiroid, dan menyebabkan diabetes insipidus pada bayi baru lahir.

7. NSAIDs (Nonsteroidal anti-inflammatory drugs): Aspirin, ibuprofen, naproxen: jika obat diminum dalam dosis besar dapat menyebabkan perpanjangan waktu mulai persalinan, penutupan hubungan antara aorta dan arteri yang menuju paru secara prematur (ductus arteriosus), kadang-kadang menyebabkan kerusakan otak, serta masalah perdarahan pada ibu selama dan sesudah persalinan berlangsung. Di samping itu jika dikonsumsi pada masa-masa akhir kehamilan dapat menurunkan jumlah cairan amnion (air ketuban).

Di samping obat-obat seperti tersebut di atas, terdapat pula zat-zat lainnya yang jika digunakan selama masa kehamilan dapat menyebabkan masalah, baik pada janin maupun ibunya. Di antaranya adalah:

  1. Tembakau (merokok): efek yang ditimbulkan oleh merokok selama masa kehamilan adalah bayi berat lahir rendah dan penurunan berat badan bayi ini lebih tinggi pada ibu-ibu dengan usia tua yang merokok.

    Sangat penting bagi wanita hamil untuk menjaga kesehatannya agar dihasilkannya janin yang sehat

    Di samping itu, dapat pula terjadi defek pada jantung, otak, serta wajah bayi akibat merokok selama masa kehamilan. Kemudian resiko Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) juga meningkat apabila ibu merokok. Bahaya lainnya yang ditimbulkan pada ibu yang merokok adalah plasenta previa (letak plasenta yang menghalangi jalan lahir), abruptio plasenta (pelepasan plasenta secara prematur), ruptur membran yang prematur, persalinan prematur, infeksi rahim (uterus), dan keguguran. Yang juga tidak dapat diabaikan adalah anak-anak yang dilahirkan oleh wanita yang merokok selama masa kehamilan akan cenderung mengalami kemunduran dalam pertumbuhan dan perkembangan intelektualnya. Semua dampak buruk merokok selama masa kehamilan ini disebabkan oleh nikotin. Di mana nikotin menyebabkan pelepasan hormon yang menyebabkan kontriksi pembuluh darah yang mensuplai darah ke rahim (uterus) dan ari-ari (plasenta) sehingga hanya sedikit oksigen dan nutrisi yang diteruskan kepada janin. Penting juga bagi wanita hamil untuk menghindari asap rokok yang berasal dari lingkungan sekitarnya demi terjaganya kesehatan dan kesejahteraan janin selama masa kehamilan.

  2. Alkohol: bagaimana mekanisme alkohol menyebabkan defek pada bayi yang dilahirkan sampai saat ini belum banyak diketahui. Juga sampai saat ini belum diketahui dengan pasti mengenai jumlah alkohol yang dapat menyebabkan kelainan pada janin yang dilahirkan. Pada beberapa literatur disebutkan bahwa resiko keguguran meningkat dua kali pada wanita yang mengkonsumsi alkohol selama masa kehamilan. Biasanya bayi-bayi yang dilahirkan dari ibu yang mengkonsumsi alkohol memiliki berat badan lahir sekitar 2 kilogram atau kurang. Fetal Alcohol Syndrome merupakan salah satu komplikasi serius pada ibu-ibu hamil yang mengkonsumsi alkohol. Sindrom ini mencakup pertumbuhan yang terhambat selama dalam kandungan maupun setelah lahir, defek pada wajah, ukuran kepala yang kecil, retardasi mental, dan gangguan perkembangan sosial.
  3. Kafein: kafein yang biasanya terdapat pada kopi, teh, beberapa jenis soda, coklat, dan beberapa obat, merupakan stimulan yang dapat melewati plasenta menuju janin. Kemudian akan dapat meningkatkan denyut jantung janin, serta menurunkan aliran darah yang melewati plasenta dan menurunkan absorpsi zat besi. Berdasarkan data beberapa literatur, disebutkan bahwa meminum lebih dari 7 cangkir kopi dalam satu hari dapat meningkatkan kejadian lahir prematur, bayi dengan berat lahir rendah, ataupun keguguran.
  4. Kokain dan Methamphetamine: merupakan stimulan sistem saraf pusat yang kuat. Obat-obatan golongan ini menyebabkan pembuluh darah ibu mengalami konstriksi, jantung berdenyut lebih cepat, dan tekanan darah yang meningkat dari normal. Dengan demikian, akan berpengaruh pula terhadap janin yang dikandung di mana dapat terjadi pertumbuhan yang terhambat, resiko keguguran, lahir prematur, dan juga abruptio plasenta. Jika obat-obatan ini dikonsumsi pada masa akhir kehamilan, bayi yang dilahirkan dapat mengalami ketergantungan, dan menderita sindrom withdrawal, yakni sekumpulan gejala seperti tremor (bergetar), spasme otot, dan kesulitan dalam menetek.
  5. Heroin dan narkotika lainnya: penggunaan narkotika dapat meningkatkan kejadian lahir prematur dengan disertai komplikasi seperti berat badan bayi lahir rendah, kesulitan bernafas, dan perdarahan intrakranial. Bayi yang dilahirkan dari ibu yang mengalami ketergantungan terhadap narkotika akan menderita sindrom withdrawal, seperti: muntah dan diare, serta kekakuan pada sendi. Dan pada wanita yang menggunakan narkotika suntik secara bersama-sama, kemungkinan akan dapat terkena infeksi HIV dan memiliki kemungkinan yang besar pula untuk ditularkan kepada bayinya selama masa kehamilan.
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s